Home » » Makna Tangga Dalam Banguan Melayu

Makna Tangga Dalam Banguan Melayu


Pada bangunan tradisional Melayu, tangga depan dikatakan mengandung makna lambang-lambang, sehingga diungkapkan,
Leher berpanggak pada bendul
Kepala bersandar ke jenang pintu
Anak bersusun tingkat-bertingkat
Tempat pusaka melangkah turun
Tempat mengisik-ngisik debu
Tempat membasuh-basuh kaki

Ada dua jenis tangga.  
Pertama, tangga bulat, yakni tangga yang dibuat dari kayu bulat. Jenis ini dikenal dengan tangga bertanggam.  
Kedua, tangga picak, yaitu tangga pipih yang terbuat dari papan tebal. Susunan anak tangga, cara mengikat tali tangga, dan bagian-bagian induk tangga mengandung makna tertentu sesuai tradisi seni bangunan Melayu seperti yang diungkapkan dalam sastra lisan. Misalnya, pangkal kayu anak-anak tangga harus diletakkan di sebelah kanan tangga. Hal ini dijelaskan dalam ungkapan lama,
Pangkal kayu sebelah kanan
Ujung terletak di sebelah kiri
Tak bersilang adik-beradik
Tak menyunsang sampan dikayuh
Tak terkejut tengah malam
Tak tergempar orang di banjar

Ikatan tangga harus dibuat secara khusus yang disebut lilit selari atau belit bercengkam. Disebut seperti itu karena ikatan tali tidak boleh terputus-putus, mulai dari anak tangga paling atas sampai ke anak tangga terbawah, seperti ungkapan,
Belit bercengkam tali tangga
Lilit selari sambung-bersambung
Dari atas turun ke bawah
Ikat bercengkam simpul mati
Tak bertelingkah cakap di rumah
Tak kerit padi di ladang
Kalau ya dipakai, kalau tidak dibuang
Bagian yang disebut leher tangga, yang tersangkut di atas bendul pintu, melambangkan kasih sayang ibu kepada anaknya. Dalam ungkapan lama dikatakan,
Leher terpangguk pada bendul
Bagai memangku anak menyusu
Kasih menurut sepanjang jalan
Tak bersekat berhempang-hempang

Bagian yang disebut kepala tangga tersandar ke jenang pintu melambangkan kepala rumah tangga yang senantiasa menjaga martabat keluarganya, seperti ungkapan,
Kepala bersandar ke jenang pintu
Memberi tahu orang di rumah
Memberi kabar orang di tanah
Entah orang salah duduk
Entah orang salah cakap

Jumlah anak tangga dalam bangunan tradisional Melayu dinyatakan dalam ungkapan tradisional sebagai berikut,
Yang pertama memberi salam
Yang kedua pengisik debu
Yang ketiga pelepas penat
Yang keempat peninjau laman
Yang kelima pijakan adat

Yang keenam gantung rantungan
Anak tangga bersusun lima

Lima rukun di dalamnya
Anak tangga bersusun enam
Enam pula kandungannya
Yang sesuai menurut syara‘
Yang lulus menurut kitab
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Putri Pakning

0 komentar:

Posting Komentar

 
My Blog : Boedak Begajol | Budaya Bangsa | Hacker Pakning
Copyright © 2011. Melayu Tolen - All Rights Reserved