Tampilkan postingan dengan label Tradisi Melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi Melayu. Tampilkan semua postingan

Rumah Tradisional Melayu





Rumah-rumah tradisional Melayu telah diwarisi semenjak beratus tahun yang lalu. Gaya dan bentuk Rumah Tradisional Melayu dipengaruhi oleh cara hidup, ekonomi, alam persekitaran dan iklim.
Iklim adalah perkara yang penting yang mempengaruhi bentuk senibina Rumah Tradisional Melayu. Negara kita mempunyai hawa yang panas dan hujan yang selalu turun dengan lebat. Rumah-rumah dan bangunan dibina dengan berpanggung atau bertiang. Rumah Tradisional Melayu dibina demikian kerana memberi laluan atau pengedaran udara.Rumah Tradisional Melayu yang bertiang dapat mengelak daripada ditenggelami air 
apabila berlaku banjir.

Rumah tradisional melayu
Rumah tradisional melayu

Bentuk bumbung yang curam yang dipanggil “lipat kajang” dapat memudahkan curahan air hujan. Lantai dan dinding rumah yang diperbuat daripada anyaman peluhan adalah untuk memudahkan pengedaran udara dan untuk mengurangkam rasa bahang panas.
Rumah Tradisional Melayu yang awal yang digunakan oleh Melayu dipanggil “dangau” atau “teratak”. Bentuk rumah tradisi ini adalah ringkas. Pada masa dahulu, tiang Rumah Tradisional Melayu adalah bulat dan diperbuat daripada anak-anak pokok kayu. Seluruh rumah diperbuat daripada kayu dan bumbungnya daripada atap nipah atau rumbia.

Rumah tradisional melayu
Rumah tradisional melayu

Bentuk Rumah Tradisional Melayu ini telah mengalami perubahan sedikit demi sedikit. Tetapi bentuk asas iaitu bertiang dan berlantai tinggi dari tanah masih dikekalkan. Bahan-bahan yang digunakan seperti kayu, atap nipah, atap rumbia, atap bertam, buluh berayam, pelupuh, kayu buluh atau batang nibung, telah digantikan dengan bahan-bahan lain seperti zing dan genting untuk bumbung dan simen serta batu bata.
Bentuk rumah tradisional adalah berbeza bagi setiap negeri. Rumah-rumah ini mempunyai ciri-ciri yang tersendirian.

Rumah Adat Melayu Riau - Selaso Jatuh Kembar





Rumah adat di daerah Riau bernama Selaso Jatuh Kembar. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan musyawarah adat.
SUMBER CORAK
Corak dasar Melayu Riau umumnya bersumber dari alam, yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa. Benda-benda itulah yang direka-reka dalam bentuk-bentuk tertentu, baik menurut bentuk asalnya seperti bunga kundur, bunga hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau dimodifikasi sehingga tak lagi menampakkan wujud asalnya, tetapi hanya menggunakan namanya saja seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergantung.
Di antara corak-corak tersebut, yang terbanyak dipakai adalah yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Hal ini terjadi karena orang Melayu umumnya beragama Islam sehingga corak hewan (fauna) dikhawatirkan menjurus kepada halhal yang berbau “keberhalaan”. Corak hewan yang dipilih umumnya yang mengandung sifat tertentu atau yang berkaitan dengan mitos atau kepercayaan tempatan. Corak semut dipakai -walau tidak dalam bentuk sesungguhnya, disebut semut beriringkarena sifat semut yang rukun dan tolong-menolong. Begitu pula dengan corak lebah, disebut lebah bergantung, karena sifat lebah yang selalu memakan yang bersih, kemudian mengeluarkannya untuk dimanfaatkan orang ramai (madu). Corak naga berkaitan dengan mitos tentang keperkasaan naga sebagai penguasa lautan dan sebagainya. Selain itu, benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, matahari, dan awan dijadikan corak karena mengandung nilai falsafah tertentu pula.
Ada pula corak yang bersumber dari bentuk-bentuk tertentu yakni wajik(Belah ketupat), lingkaran, kubus, segi, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga corak kaligrafi yang diambil dari kitab Alquran. Pengembangan corak-corak dasar itu, di satu sisi memperkaya bentuk hiasan. Di sisi lain, pengembangan itu juga memperkaya nilai falsafah yang terkandung di dalamnya.
RAGAM ORNAMEN
Bangunan BALAI ADAT MELAYU RIAU pada umumnya diberi ragam hiasan, mulai dari pintu,jendelah,vetilasi sampai kepuncak atap bangunan,ragam hias disesuaikan dengan makna dari setiap ukiran.
Selembayung
Selembayung disebut juga “ selo bayung “ dan “tanduk buang” adalah hiasan yang terletak bersilangan pada kedua ujung perabung bangunan.pada bangunan balai adat melayu ini setiap pertemuan sudut atap di beri selembayung yang terbuat dari ukiran kayu.
Hiasan pada pintu dan jendelah
Hiasan pada bagian atas pintu dan jendelah yang disebut”lambai-lambai”,melambangkan sikap ramah tamah. Hiasan “Klik-klik” disebut kisi-kisi dan jerajak pada jendelah dan pagar.

Rumah Lancang (Rumah Tradisional Kabupaten Kampar, Provinsi Riau)
Asal-Usul
Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas.
Rumah Lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan masyarakat.
Dinding luar Rumah Lancang seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung ke atas, dan, terkadang, disambung dengan ukiran pada sudut-sudut dinding, maka terlihat seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengkung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut sulo bayung. Sedangkan sayok lalangan merupakan ornamen pada keempat sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.
Keberadaan Rumah Lancang, nampaknya, merupakan hasil dari proses akulturasi arsitektur asli masyarakat Kampar dan Minangkabau. Dasar dan dinding Rumah yang berbentuk seperti perahu merupakan ciri khas masyarakat Kampar, sedangkan bentuk atap lentik (Lontik) merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau. Proses akulturasi arsitektur terjadi karena daerah Kampar merupakan alur pelayaran, Sungai Mahat, dari Lima Koto menuju wilayah Tanah Datar di Payakumbuh, Minangkabau. Daerah Lima Koto mencakup Kampung Rumbio, Kampar, Air, Tiris, Bangkinang, Salo, dan Kuok. Oleh karena Kampar merupakan bagian dari alur mobilitas masyarakat, maka proses akulturasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Hasil dari proses akulturasi tersebut nampak dari keunikan Rumah Lancang yang sedikit banyak berbeda dengan arsitektur bangunan di daerah Riau Daratan dan Riau Kepulauan.
Rumah Belah Bubung (Rumah Tradisional Melayu di Kepulauan Riau)
Asal-Usul
Kepulauan Riau merupakan salah satu satu provinsi di Indonesia. Daerah ini merupakan gugusan pulau yang tersebar di perairan selat Malaka dan laut Cina selatan. Keadaan pulau-pulau itu berbukit dengan pantai landai dan terjal. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sedangkan agama yang dianut oleh sebagian besar dari mereka adalah Islam.
Kondisi alam dan keyakinan masyarakat Kepulauan Riau sangat mempengaruhi pola arsitektur rumahnya. Pengaruh alam sekitar dan keyakinan dapat dilihat dari bentuk rumahnya, yaitu berbentuk panggung yang didirikan di atas tiang dengan tinggi sekitar 1,50 meter sampai 2,40 meter. Penggunaan bahan-bahan untuk membuat rumah, pemberian ragam hias, dan penggunaan warna-warna untuk memperindah rumah merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekpresi nilai keagamaan dan nilai budaya.
Salah satu rumah untuk tempat tinggal masyarakat Kepulauan Riau adalah rumah Belah Bubung. Rumah ini juga dikenal dengan sebutan rumah Rabung atau rumah Bumbung Melayu. Nama rumah Belah Bubung diberikan oleh orang Melayu karena bentuk atapnya terbelah. Disebut rumah Rabung karena atapnya mengunakan perabung. Sedangkan nama rumah Bubung Melayu diberikan oleh orang-orang asing, khususnya Cina dan Belanda, karena bentuknya berbeda dengan rumah asal mereka, yaitu berupa rumah Kelenting dan Limas.
Nama rumah ini juga terkadang diberikan berdasarkan bentuk dan variasi atapnya, misalnya: disebut rumah Lipat Pandan karena atapnya curam; rumah Lipat Kajang karena atapnya agak mendatar; rumah Atap Layar atau Ampar Labu karena bagian bawah atapnya ditambah dengan atap lain; rumah Perabung Panjang karena Perabung atapnya sejajar dengan jalan raya; dan rumah Perabung Melintang karena Perabungnya tidak sejajar dengan jalan.
Besar kecilnya rumah yang dibangun ditentukan oleh kemampuan pemiliknya, semakin kaya seseorang semakin besar rumahnya dan semakin banyak ragam hiasnya. Namun demikian, kekayaan bukan sebagai penentu yang mutlak. Pertimbangan yang paling utama dalam membuat rumah adalah keserasian dengan pemiliknya. Untuk menentukan serasi atau tidaknya sebuah rumah, sang pemilik menghitung ukuran rumahnya dengan hitungan hasta, dari satu sampai lima. Adapun uratannya adalah: ular berenang, meniti riak, riak meniti kumbang berteduh, habis utang berganti utang, dan hutang lima belum berimbuh. Ukuran yang paling baik adalah jika tepat pada hitungan riak meniti kumbang berteduh.
Rumah Adat Melayu Limas Potong
Limas Potong adalah salah satu bentuk rumah tradisional masyarakat melayu Riau Kepulauan. Rumah Limas Potong berbentuk rumah panggung, sebagaimana rumah tradisional di Sumatra pada umumnya. Tingginya sekitar 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Dinding rumah terbuat dari susunan papan warna coklat, sementara atapnya berupa seng warna merah. Kusen pintu, jendela serta pilar anjungan depan rumah dicat minyak warna putih.
Jenis rumah adat melayu yang lain adalah rumah tradisional Belah Bubung. Kalau di Riau daratan, rumah tradisionalnya ada Rumah Lontik, dan Rumah Salaso Jatuh Kembar.
RINGKASAN
SENI RUPA TERAPAN DAERAH SETEMPAT
  1. Berbagai Teknik Pembuatan Karya Seni rupa Terapan Daerah Setempat.
Beberapa seni rupa yang terbuat dari kayu, bamboo, rotan, dan gerabah:
  1. Kerajinan Bambu dari Tasikmalaya.
  2. Kerajinan Rotan dari Corebon.
  3.  Kerajinan Ukiran.
  4. Gerabah.
  1. Klasifikasi Karya Seni Rupa Terapan Berdasarkan Sosial Budaya Masyarakat Setempat.
Pencipataan karya seni rupa terapan daerah tradisional daerah tidak terlepas dari pengaruh social budaya daerah setempat, salah satu contoh benda seni rupa yang dipengaruhi oleh adat masyarakat yang sangat dikenal adalah bentuk rumah adat. Berikut ini contoh rumah adat:
  1. NAD => Rumah Aceh.
  2. Sumatra Utara => Rumah Balai Batak Toba.
  3. Sumatra Barat => Rumah Gadang.
  4. Sumatra Selatan => Rumah Rakit
  5. Riau => Selaso Jatuh Kembar.
  6. Jambi => Rumah Panggung.
  7. Lampung => Huwo Sesat.
  8. Bengkulu => Rumah Bubungan Limas.
  9. DKI Jakarta => Joglo.
10.  Jawa Barat => Kasepuhan.
11.  Jawa Tengah => Joglo.
12.  Jawa Timur => Joglo.
13.  D.I. Yogyakarta => Joglo.
14.  Bali => Natah/Natar.
15.  Madura => Dalam Loka Samawa.
16.  NTB => Sao Ata Nusa Lakitana.
17.  NTT => Rumah Panjang (Bentang).
18.  Kalimantan Barat => Rumah Lamin.
19.  Kalimantan tengah =>Rumah Bentang.
20.  Kalimantan Selatan => Rumah Banjar.
21.  Kalimantan Timur => Rumah Lamin.
22.  Sulawesi Utara => Rumah Adat dari Bolaang Mongandow.
23.  Sulawesi Tenggara => Laikas.
24.  Sulawesi Tengah => Souraja/Rumah Besar.
25.  Sulawesi Selatan => Tongkonan/Rumah Toraja.
26.  Maluku => Balleo.
27.  Irian Jaya => Rumah Kari Wari.
Rumah adat di suatu daerah setempat memiliki fungsi khusus bagimasyarakatnya. Contohnya rumah adat tana toraja yang bernama tongkonan. Tongkonan berasal dari istillah “tongkon” yang berarti duduk. Tongkonan mempunyai beberapa fungsi antara lain:
  1. Pusat budaya.
  2. Pusat pembinaan keluarga, pembinaan peraturan keluarga, kegotongroyongan.
  3. Pusat dinamisator, motifator, dan stabilisator social.
Berikut adalah beberapa jenis tongkonan:
  1. Tongkonan layuk atau pesio’ aluk. Sebagai tempat untuk menciptakan dan menyusun aturan-aturan sosial keagamaan.
  2. Tongkonan pekaindoran atau pekamberan atau keparengesan. Sebagai tempat pengurus dan pengatur pemerintahan adat berdasarkan aturan dari tongkonan pesio’ aluk.
  3. Tongkonan batu a’riri. Sebagai toongkonan penunjang tongkonan dalam membina persatuan keluarga serta membina warisan tongkonan.
  4. Tongkonan marimbuna. Merupakan rumah sekaligus tempat mandi pimiliknya (marimbuna).
C Membandingkan Ciri-Ciri Khusus Berbagai Karya Seni Rupa Terapan Daerah Setempat.
Suatu benda seni rupa yang dikatakan unik adalah karya seni rupa yang memiliki cirri khusu yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Keunikan atau kekhasan yang disebut dapat berupa bentuknya, teknik pembuatannya, ataupun gagasan yang melatarbelakanginya.

Ragam Hias Dalam Seni Bangunan Melayu Riau



Hiasan yang terdapat dalam seni bangunan Melayu Riau bermacam-macam. Misalnya, sepanjang kaki dinding di bagian depan dan belakang rumah lontik diberi ukiran yang disebut gando ari. Motif ukiran mengambil bentuk daun, bunga, kuntum, dan akar-akaran yang menggambarkan kekayaan flora sebagai pernyataan dekatnya hubungan manusia dengan alam. Juga terdapat motif-motif hewan dan alam sekitar. Motif-motif dari seluruh daerah Riau dapat disebut secara garis besar seperti misalnya Kaluk Pakis, Bunga Hutan, Bunga Kundur, Tampuk Manggis, Pucuk Rebung, dan lain-lain yang berasal dari alam flora, dan Itik Pulang Petang, Semut Beriring, Siku Keluang, dari alam fauna, dan motif lainnya dari alam seperti Bulan Sabit, Bintang-bintang, Awan Larat, dan lain sebagainya.
Hiasan-hiasan itu dibuat di dinding-dinding bangunan, di daun pintu, di kisi-kisi jendela, di tangga, dan di bagian atap. Hiasan pada bagian atap biasanya dibuat pada cucuran atap atau pada perabung. Di antara hiasan yang dibuat pada perabung atap adalah selembayung. Selembayung disebut juga Sulo Bayung atau Tanduk Buang, yaitu hiasan yang terletak bersilangan di kedua ujung perabung bangunan Belah Bubung dan Rumah Lontik. Di bagian bawahnya kadang-kadang juga diberi hiasan tambahan seperti tombak terhunus yang bersambung dengan kedua ujung perabung.
Selembayung yang diletakkan di bagian paling tinggi suatu bangunan mengandung lambang yang sangat tinggi artinya. ltulah sebabnya selembayung disebut juga Tajuk Rumah atau mahkota suatu bangunan yang dipercaya dapat membangkitkan seri atau cahaya bangunan itu. Sebagai Tajuk Rumah ungkapan tradisional daerah Riau mengatakan,
Sepasang tajuk di ujung
Sepasang tajuk di pangkal
Tajuk pembangkit seri pelangi
Membangkit cahaya di bumi
Membangkit cahaya di langit
Membangkit cahaya di laut
Membangkit cahaya di dalam rumah
Selembayung disebut juga Pekasih Rumah sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan,
Selembayung jantan sebelah kanan
Selembayung betina sebelah kiri

Bagai balam dua selenggek Kalau mengukur balam jantan
Angguk-mengangguk balam betina

Selembayung disebut juga Pasak Atap sebagai lambang keserasian hidup yang “tahu diri”. Hal ini dinyatakan dalam ungkapan,
Terpacak selembayung bubung Melayu
Tegak pemasak atap rumah
Bagai tangan tadah-tadahan

Yang tahu kecil dirinya
Yang tahu papa dengan kedana
Yang tahu nasib dengan untungnya
Yang bercakap di bawah-bawah
Yang mandi di hilir-hilir

Selembayung juga disebut Tangga Dewa yang dipercaya sebagai tempat turun dewa, mambang, akuan, soko, dan roh orang sakti. Hal ini dinyatakan dalam ungkapan,
Selembayung balai belian
Tangga Desa nama asalnya
Tempat berpijak Dewo Mambang
Tempat turun soko akuan
Tempat pijakan keramat sidi
Tempat melenggang wali-wali
Yang turun ke balai puncak
Yang turun ke bilik dalam
Yang turun ke tanah sekepal mula jadi
Yang turun ke bumi selebar dulang
Yang turun dari langit sekembang payung
Selembayung dua kemuncak
Ujungnya menyundak langit
Kaki menyusun-nyusun atap
Tempat turun nenek di gunung
Tempat turun nenek di padang
Tempat turun nenek bunyian
Tempat turun Nek Bia Sati
Turunnya turun beradat

Turun berpijak pada kemuncak
Turun ke Balai Dewo Balai Ancak
Ancak berisi panggang mondung
Lengkap dengan nasi kunyitnya
Di muka tempat pelesungan

Di belakang beras bertih
Di bawah lantai selari
Di atas berselembayung
Turun segala penghulu lawang
Turun bermanis-manis muka
Membawa obat dengan mawar
Membuang salah dengan silih

Selembayung juga dinamakan Rumah Beradat, karena bangunan yang berselembayung merupakan tanda kediaman orang berbangsa atau kediaman orang patut-patut/terhormat. Dalam ungkapan dikatakan,
Di mana tegak selembayung
Di balai tingkat bertingkat
Di istana beranjung tinggi
Di rumah besar berbilik dalam
Tempat berunding bermufakat
Tempat bertitah raja berdaulat
Tempat berpetuah datuk-datuk
Tempat dubalang kuat kuasa

Tempat penghulu pemangku adat
Tempat orang nan patut-patut
Tempat beradat berlembaga
Kalau tingginya tampak jauh
Kalau dekatnya tidak tergamak

Selembayung yang berbentuk seperti bulan sabit disebut juga Tuan Rumah, yang dipercaya akan mendatangkan tuah kepada pemilik bangunan. Dalam ungkapan dikatakan,
Yang bernama Sulo Bayung
Bagai mengetam bulan naik
Mengetam cahaya ke muka
Menyimbah tuah ke rumah
Mengetam cahaya ke kaki
Menyimbah tuah mendaki

Selembayung yang dilengkapi dengan tombak-tombak melambangkan penjaga, agar rumah atau bangunan tenteram, juga menggambarkan kewibawaan dan keperkasaan pemiliknya. Dalam ungkapan dikatakan,
Selembayung bertombak-tombak
Untuk penunggu-nunggu rumah
Untuk penyedap-nyedap hati

Kan penahan balak dan bala
Kan penahan salah dan silih

Motif ukiran selembayung terdiri dari daun-daunan dan bunga yang melambangkan perwujudan kasih sayang, tahu adat, tahu diri, berlanjutnya keturunan, dan serasi dalam rumah tangga. Hal ini dinyatakan dalam ungkapan,
Jalin berjalin akar pakis
Lapis berlapis kelopak bunga
Susun bersusun kuntum jadi
Seluk berseluk daun kayu
Yang berjalin kasih saying
Yang berlapis panggilan gelar
Yang bersusun gadis pingitan
Yang berseluk sanak saudara

Hiasan yang terdapat pada keempat sudut cucuran atap bentuknya mirip dengan selembayung dan disebut sayap layang-layang atau sayap layangan. Hiasan dipakai sebagai padanan untuk setiap bangunan yang berselembayung. Hiasan sayap layang-layang yang diletakkan pada keempat sudut cucuran atap itu diungkapkan sebagai empat penjuru hakekat sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan,
Empat sudut cucuran atap
Empat sayap layang-layangan
Empat alam terkembang
Empat pintu terbuka
Pertama pintu rezeki
Kedua pintu hati
Ketiga pintu budi
Keempat pintu Ilahi

Hiasan ini juga digambarkan sebagai lambang kebebasan sesuai dengan namanya, sebagaimana dikatakan dalam ungkapan,
Nan bernama sayap layangan
Nan membumbung ke langit tinggi
Menengok alam sekelilingnya
Ditebang tidak tertebang
Ditebas jua jadinya
Dihempang tidak terhempang
Dihepas jua jadinya
Tapi walaupun dihepas
Diberi bertali panjang
Hendak menyimpang tali digenjur


Corak Ukiran yang terdapat pada bangunan Melayu Riau






 


Makna Tangga Dalam Banguan Melayu


Pada bangunan tradisional Melayu, tangga depan dikatakan mengandung makna lambang-lambang, sehingga diungkapkan,
Leher berpanggak pada bendul
Kepala bersandar ke jenang pintu
Anak bersusun tingkat-bertingkat
Tempat pusaka melangkah turun
Tempat mengisik-ngisik debu
Tempat membasuh-basuh kaki

Ada dua jenis tangga.  
Pertama, tangga bulat, yakni tangga yang dibuat dari kayu bulat. Jenis ini dikenal dengan tangga bertanggam.  
Kedua, tangga picak, yaitu tangga pipih yang terbuat dari papan tebal. Susunan anak tangga, cara mengikat tali tangga, dan bagian-bagian induk tangga mengandung makna tertentu sesuai tradisi seni bangunan Melayu seperti yang diungkapkan dalam sastra lisan. Misalnya, pangkal kayu anak-anak tangga harus diletakkan di sebelah kanan tangga. Hal ini dijelaskan dalam ungkapan lama,
Pangkal kayu sebelah kanan
Ujung terletak di sebelah kiri
Tak bersilang adik-beradik
Tak menyunsang sampan dikayuh
Tak terkejut tengah malam
Tak tergempar orang di banjar

Ikatan tangga harus dibuat secara khusus yang disebut lilit selari atau belit bercengkam. Disebut seperti itu karena ikatan tali tidak boleh terputus-putus, mulai dari anak tangga paling atas sampai ke anak tangga terbawah, seperti ungkapan,
Belit bercengkam tali tangga
Lilit selari sambung-bersambung
Dari atas turun ke bawah
Ikat bercengkam simpul mati
Tak bertelingkah cakap di rumah
Tak kerit padi di ladang
Kalau ya dipakai, kalau tidak dibuang
Bagian yang disebut leher tangga, yang tersangkut di atas bendul pintu, melambangkan kasih sayang ibu kepada anaknya. Dalam ungkapan lama dikatakan,
Leher terpangguk pada bendul
Bagai memangku anak menyusu
Kasih menurut sepanjang jalan
Tak bersekat berhempang-hempang

Bagian yang disebut kepala tangga tersandar ke jenang pintu melambangkan kepala rumah tangga yang senantiasa menjaga martabat keluarganya, seperti ungkapan,
Kepala bersandar ke jenang pintu
Memberi tahu orang di rumah
Memberi kabar orang di tanah
Entah orang salah duduk
Entah orang salah cakap

Jumlah anak tangga dalam bangunan tradisional Melayu dinyatakan dalam ungkapan tradisional sebagai berikut,
Yang pertama memberi salam
Yang kedua pengisik debu
Yang ketiga pelepas penat
Yang keempat peninjau laman
Yang kelima pijakan adat

Yang keenam gantung rantungan
Anak tangga bersusun lima

Lima rukun di dalamnya
Anak tangga bersusun enam
Enam pula kandungannya
Yang sesuai menurut syara‘
Yang lulus menurut kitab

Macam-Macam Tiang Bangunan Melayu Riau



Dalam bangunan tradisional Melayu terdapat beberapa macam tiang seperti tiang seri, yaitu tiang yang terletak pada empat sudut bangunan induk. Sastra lisan di Riau mengungkapkan tentang tiang seri seperti berikut,
Tiang seri di empat sudut
Empat cahaya di langit
Empat cahaya di bumi
Empat seri ke muka
Tempat dinding bertemu kasih
Tempat belebat bergalang ujung
Kalau tegak tiang nan empat
Kalau hutang ke anak jantan
Empat hutang ke anak betina
Empat alim berkitabullah
Empat sahabat Rasulullah
Empat alam ditunggunya
Empat asal kejadiannya

Tiang Penghulu adalah tiang yang terletak di antara pintu muka dengan tiang seri di sudut kanan muka bangunan. Dalam ungkapan dikatakan,
Tegak rumah dek tiang seri
Kokoh rumah dek tiang penghulu
Tempat bersandar datuk-datuk
Tempat bertumpu alim ulama
Tiang penghulu bertiang panjang
Lurusnya bagai alif
Nan menahan beban rumah
Nan memikul berat atap
Nan menyangga dinding belebat
Tertegak tiang penghulu
Tegak adat selilupnya
Tiang Tua adalah tiang yang terletak pada deretan kedua sebelah kiri dan kanan pintu tengah. Dalam ungkapan dikatakan,
Tiang tua sebelah kiri
Tempat kelapa dua jurai
Tiang tua sebelah kanan
Tempat selendang kain campo
Tiang tua di pintu tengah
Tempat bersandar bendul panjang
Tempat adat dipalangkan
Tempat langkah dihentikan
Tiang Tengah adalah tiang-tiang yang terdapat di sekeliling bangunan induk. Dalam ungkapan dikatakan,
Tiang tengah pemasak rumah
Terpasak kaki ke bumi
Terpasak kepala ke langit
Terpasak dengki dengan aniaya
Terpasak salah dengan silih
Tiang Bujang adalah tiang yang khusus dibuat di bagian tengah rumah. Dalam ungkapan dikatakan,
Tiang bujang di tengah rumah
Bertanduk rusa bersangkutan
Tempat membuat peluh busuk
Tempat mengusap-usap muka
Tempat menggaru-garu belakang
Tempat kenyang dilepaskan
Tiang dua belas adalah gabungan dari 4 buah tiang seri, 4 buah tiang tengah, 2 buah tiang tua, 1 buah tiang penghulu, dan 1 buah tiang bujang. Dalam ungkapan dikatakan,
Tertegak rumah tiang dua belas
Dua belas cahaya naik
Dua belas cahaya turun
Dua belas tiang dikandungnya
Dua belas bulan ditunangnya
Selain tiang-tiang utama tersebut, juga terdapat tiang-tiang pembantu, yaitu tiang tongkat, tiang sokong, dan tiang sulai atau tiang banga. Bentuk tiang-tiang tersebut bulat atau bersegi. Tiang bulat dan bersegi mempunyai makna tertentu seperti yang terungkap dalam khazanah sastra lisan.

Ukuran Dalam Bangunan Melayu



Ukuran bangunan juga dipercaya dapat menentukan baik tidaknya sebuah rumah. Secara tradisional patokan untuk mengukur adalah ukuran bagian tubuh si pemilik, seperti tinggi hasta, serta ukuran berdasarkan banyaknya kasau dan gelepar. Tinggi bangunan yang paling baik adalah sepemikulan atau setinggi bahu karena ini berarti beban hidup akan dapat dipikul sepenuhnya oleh si pemilik. Tentang hal ini ungkapan lama menyebutkan,
Tinggi rumah sepemikulan
Terpikul bendul nan empat
Terpikul ladang bertumpuk
Tak bertingkat tungku di dapur
Tak tersingkap kain di pinggang

Jika tinggi bangunan itu sejunjungan, yaitu setinggi puncak kepala si pemilik, hal itu juga berarti baik.
Tinggi rumah sejunjungan
Terjunjung adat dengan lembaga
Terjunjung harta dengan pusaka
Terjunjung pintak dengan bagi
Terjunjung ico dengan pakaian

Jika tinggi bangunan itu sepenjangkauan, itu juga berarti baik karena dipercaya si pemilik akan dapat menjangkau segala keperluan rumah tangganya serta mencapai cita-cita.
Tinggi rumah sepenjangkauan
Tergapai kasau dengan alang
Teraih padi dalam petak
Tertutup baju di dada
Tercapai ucap dengan pinta

Jika tinggi bangunan itu sepenyangup, yaitu setinggi mulut, itu berarti tidak baik, karena menurut kepercayaan si pemilik akan menjadi rakus, kikir, serta bertengkar dengan tetangga di sekitar.
Tinggi rumah sepenyangup,
langau lalat dimakannya,
berlapis kancing pintunya,
duduknya di atas-atas,

cakap tengking-menengking,
tak lawan musuh dicari.

Jika tinggi bangunan itu selutut, berarti sangat tidak baik, karena si pemilik dianggap tidak tahu adat serta akan berada dalam kemiskinan.
Kalau rumah tinggi selutut
Tak beradat pintu rumah
Tak beradat tangga rumah
Berbeliung tak berpoda
Berparang tidak berasah
Ke hulu pinta-meminta
Ke hilir kata-mengata

Untuk ukuran tinggi bangunan digunakan ukuran tinggi badan pria (suami), sedang untuk ukuran besar bangunan diutamakan menggunakan ukuran tangan wanita (istri). Untuk mengukur besar rumah yang tepat dipakai seutas tali. Hasta pertama disebut ular berang yang berarti tidak baik, karena bangunan yang ukurannya jatuh pada hasta pertama ini akan mengakibatkan sengketa. Hasta kedua disebut meniti riak, juga berarti tidak baik, karena dipercaya akan membuat penghuninya menjadi sombong. Hasta ketiga disebut riak meniti kumbang berteduh, yang berarti baik sekali, karena dapat membuat penghuninya mendapat ketenteraman, kebahagiaan, rezeki melimpah, serta menjadi tempat bernaung keluarga dan masyarakat sekitarnya. Hasta keempat disebut habis hutang berganti hutang yang berarti tidak baik, karena akan membuat penghuninya miskin akibat berhutang. Hasta kelima disebut hutang lalu tidak terimbuh yang berarti tidak baik, karena menurut kepercayaan penghuni bangunan seukuran itu akan bertambah miskin bila mendiaminya.

Ada cara mengukur yang disebut bilang kasau yang juga diserahkan kepada wanita (istri). Ukurannya disebut setulang, yakni sepanjang ujung siku hingga ke ujung buku jari tergenggam. Tulang pertama disebut kasau yang berarti baik, karena membawa kebahagiaan lahir dan batin. Tulang kedua disebut risau yang berarti akan mendatangkan malapetaka. Tulang ketiga disebut rebe yang berarti selalu diancam oleh bahaya dan melarat. Tulang keempat disebut api yang berarti sering terjadi perselisihan, pertengkaran, dan mungkin sekali rumah itu terbakar.

Cara mengukur bilang gelegar sama dengan kasau. Tulang pertama disebut gelegar yang artinya baik sekali, karena ukuran ini membawa kesejahteraan dan kebahagiaan. Tulang kedua disebut geligi, artinya tidak baik karena penghuni bangunan akan selalu sakit, mendapat sial, dan susah. Tulang ketiga disebut ubur, artinya tidak baik karena mendatangkan kesusahan dan kemelaratan. Tulang keempat disebut bangkai, yang berarti sangat tidak baik karena membawa malapetaka dan bahaya maut bagi penghuninya.

Memilih Bahan Bangunan Tradisi Melayu




Sastra lisan yang berupa ungkapan tradisional Riau memberi petunjuk tentang bermacam-macam kayu yang tidak baik untuk dijadikan bahan bangunan, misalnya kayu yang dililit akar. Kayu ini dikatakan dapat menyebabkan bangunan sering dinaiki ular atau penghuninya mendapat kesulitan, seperti ungkapan,
Kalau kayu dililit akar
Tumbangnya tak jejak ke tanah
Ditebang menyangkut beliung
Dibawa pulang diikut susah

Kayu yang berlubang digirik kumbang atau kayu yang berlubang di tengahnya juga dianggap tidak baik, seperti ungkapan,
Kalau kayu digirik kumbang
Dilintangkan ia patah
Ditegakkan ia rebah
Kalau kayu berlubang panjang
Empulurnya membawa miang
Tatalnya melenting mata
Patut dibuat kayu api

Kayu yang sedang berpucuk muda. Kayu ini dianggap dapat menyebabkan penghuni bangunan sakit-sakitan dan sulit mendapat rezeki, seperti ungkapan,
Kalau kayu berbunga lebat
Buahnya mengunjung dahan
Pucuknya menjarum-jarum
Kalau panas ia pecah
kalau hujan ia lapuk
Terasnya tidak berurat
Empulur menggenang getah

Kayu yang batangnya berpilin. Kayu ini dianggap akan dapat menyebabkan penghuni bangunan mendapat fitnah, seperti ungkapan,
Batang kayu berpiuh pilin
Di hutan menyundak dahan
Di rumah menyundak atap
Yang lurus membengkokkan
Yang tegak merebahkan

Kayu tunggal, yaitu kayu yang jenisnya hanya ada sebatang di suatu tempat. Menurut kepercayaan penghuni rumah yang dibuat dengan kayu ini akan bercerai dengan keluarganya, sebagaimana diungkapkan,
Kayu tunggal penunggu rimba
Kalau ditebang menghabiskankan
Kalau ditutur mematikan

Kayu bekas tebangan orang. Bangunan yang dibuat dengan kayu ini diyakini akan membuat penghuninya cepat bercerai dengan keluarganya, seperti ungkapan,
Kalau ada bekas beliung
Tak boleh dikerat lagi
Di situ letak silang sengketa
Di situ pertemuan dihabisi

Kayu yang tidak langsung tumbang di tanah ketika ditebang. Bangunan yang dibuat dari kayu ini menurut kepercayaan akan mendatangkan bahaya kematian bagi penghuninya, seperti ungkapan,
Yang rebah tak mencecah tanah
Menyandar ke kayu lain
Memutus ranting meretas dahan
Matinya mati menganggang
Tergantung lapuk tertegak busuk

Kayu yang akarnya menjulur ke air. Bangunan yang dibuat dengan kayu ini dianggap akan dapat menyebabkan penghuninya mendapat sial, seperti ungkapan,
Sebelah akar di tebing
Sebelah akar di air
Satu dipegang satu lepas
Satu dapat satu menghilang

Kayu bekas terbakar. Bangunan yang dibuat dengan kayu ini dianggap akan menyebabkan penghuninya menderita kemiskinan dan berbagai penyakit, seperti ungkapan,
Terpanggang kayu di tengah ladang
Terasnya menjadi gubal
Diketam tidak bertatal
Kulit dikubik berisi arang
Banir diseluk tak berurat tunggang
Dipesandar timpa-menimpa
Ditampung tak tertampung
Dikerat tak terkerat
Mematah pada beliung
Memecah hulu parang

Cara Menentukan Arah Bangunan Melayu



Setelah memilih tempat yang baik, untuk mendirikan bangunan juga harus diperhatikan arah hadap bangunan. Oleh karena itu seni bangunan Melayu Riau mempunyai beberapa patokan berkenaan dengan arah.  

Pertama, menghadap ke Utara. Arah hadap utara dianggap baik sekali, karena diyakini mendatangkan banyak rezeki, jarang ditimpa penyakit, dan selalu hidup berkecukupan, seperti dinyatakan ungkapan lama,
Kalau rumah menghadap ke utara
Bagai menahan belat di kuala
Satu dipasang dua isinya
Dua dipasang empat mengena

Kedua, menghadap ke Timur. Arah ini juga dianggap baik sekali, karena dipercayai akan membuat penghuni rumah mendapat rezeki melimpah, jauh dari segala macam penyakit, seperti dinyatakan,
Kalau rumah menghadap ke timur
Bagai lukah di pintu air
Pagi direndam petang berisi
Petang direndam malam penuh
Bukan penuhnya oleh apa

Penuh emas dengan urai
Penuh gelak nan berderai

Ketiga, menghadap ke Barat. Arah hadap ini dianggap tidak baik, karena bisa membuat penghuni bangunan selalu diserang penyakit panas dan tidak tenteram, seperti diungkapkan,
Kalau rumah menghadap ke barat
Bagai lesung batu tidak beranak
Lada ada sambal tak lumat
Garam sebuku tak tergiling

Keempat, menghadap ke Selatan. Arah hadap ini dianggap kadang-kadang mendatangkan kebaikan pada penghuni rumah, kadang-kadang tidak, seperti diungkapkan,
Kalau rumah menghadap ke selatan
Bagai peluntang di tengah sungai
Tuah kail puntung mengena
Sial kail umpannya habis

Memilih Letak Bangunan Melayu Riau




Tempat-tempat yang baik untuk mendirikan bangunan menurut tradisi Melayu Riau adalah:  
pertama, tanah liat yang berwarna kuning dan hitam. Rumah di atas tanah ini diyakini akan membuat penghuninya tidak diserang penyakit jerih, pitani, dan sawan babi, sebagaimana dikatakan dalam sebuah ungkapan,
Tegak pada tanah liat
Liat nyawa di badan
Serit jerih menimpa
Yang kuning penolak pening
Yang hitam penawar pitam
Penawar sawan babi

Kedua, tanah yang datar. Rumah yang didirikan di sini dipercayai akan membuat penghuni bangunan selalu tenang hidupnya dan disenangi dalam pergaulan, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah ungkapan lama,
Datar tanah perumahan
Datar pula halamannya
Tak ada batang melintang
Tak ada onak menjemba

Ketiga, tanah yang miring ke belakang. Rumah di sini dipercayai akan membuat penghuninya tidak kekurangan rezeki, seperti dinyatakan dalam ungkapan,
Miring tanah ke penanggah
Tanda tungku kan menyala
Tanda puntung kan berasap
Tanda periuk kan berisi
Kalau curam ke halaman

Yang datang menggolek pergi
Tak terhempang dek pengkelang
Tak tersangkut dek tangga turun
Sumpit kempis, langau tak hinggap

Keempat, tanah belukar. Rumah yang dibangun di sini dipercayai akan membuat penghuni mendapat rezeki yang halal, bebas dari gangguan hantu dan makhluk halus lain, seperti dinyatakan dalam ungkapan,
Terkena pada tanah belukar
Kok codingnya bernas-bernas
Tak menjelau jin pelesit
Tak menyonggol jembalang tanah

Kelima, tanah yang dekat dengan sumber air. Menurut kepercayaan, rumah di atas tanah ini akan membuat penghuninya mendapat rezeki melimpah, seperti dinyatakan dalam ungkapan,
Dekat telaga di bawah bukit
Dekat suak anak sungai
Dekat segala ucap pinta

Kalau labu berisi penuh
Kalau petak acap-acapan
Makan tak termakan-makan
Minum tak terminum-minum

Tempat yang tidak terlalu baik dan tidak terlalu buruk untuk mendirikan bangunan menurut tradisi Melayu Riau antara lain adalah:  
pertama, tanah dusun atau kebun yang belum ada tanaman tua atau tanaman keras. Menurut kepercayaan Melayu, penghuni bangunan di sini tidak akan melarat hidupnya, tetapi rezekinya juga tidak melimpah. Ini dinyatakan dalam ungkapan lama,
Tanah ladang berbelukar
Belukar turun ke purun
Purun singgah ke tanah dusun
Terkena ke tanah dusun
Yang tak berdurian bercempedak
Tidak bermacang bermempelam
Tidak bermanggis berbuah rambai
Dapat pagi makan pagi
Bersua malam makan malam
Tapi tidak gadai menggadai
Tidak pula dibelit hutang
Tidak berjuak dan berjurai

Kedua, tanah bercampur pasir. Orang Melayu percaya bahwa penghuni di sini akan terhindar dari penyakit sampar, seperti diterangkan dalam ungkapan,
Berserak pasir di perumahan
Kisik-berkisik di halaman
Tak kan singgah jembalang tanah
Tak kan hinggap awe sampar

Ketiga, tanah bekas perumahan lama. Rumah di lahan ini dipercaya akan membuat penghuninya mendapat nasib seperti pemilik bangunan lama, seperti ungkapan,
Mengunut jejak mengulang langkah
Kalau unut di bawah betis
Kalau jejak di bawah tapak

Keempat, tanah terbuang atau terlantar. Menurut kepercayaan mereka penghuni rumah di sini akan berhasil dalam hidup jika kesialan tanah tersebut dibuang.
Tempat yang dipantangkan untuk mendirikan bangunan antara lain adalah: 
satu, tanah gambut. Penghuni bangunan di atas tanah ini diyakini akan menderita penyakit tulang, seperti tersebut dalam ungkapan lama,
Kalau gambut tiang rumah
Kok tegak tak berdiri
Kok cangkung tak terlipat
Kok duduk tak tersila
Ngilu tulang yang kan tiba

dua, tanah kuburan. Menurut kepercayaan orang Melayu penghuni di atas lahan ini akan diganggu oleh hantu atau diserang berbagai penyakit, sebagaimana disebutkan dalam ungkapan,
Berumah di atas kubur
Kok hantunya silau bersilau
Penyakit ulang-berulang
Betah pagi petang tiba
Betah petang pagi berbalik

tiga, tanah bekas orang mati berdarah. Rumah di atas tanah semacam ini dipercayai akan membuat penghuninya mendapat celaka dan diganggu oleh hantu orang yang mati di situ, seperti dikatakan,
Berumah di atas tanah berani
Bagai menghimbau musuh tiba
Bagai mengimak bala datang

empat, tanah bekas orang yang mati karena penyakit sampar. Penghuni bangunan di atas tanah ini dipercaya akan mendapat nasib yang sama, seperti dinyatakan dalam ungkapan,
Berumah di tanah Awe Gilo
Bagai menghimbau induk awe
Bagai mengimak jembalang awe

lima, tanah “tahi burung”, yaitu tanah berlekuk-lekuk. Menurut kepercayaan orang Melayu penghuni rumah di atas tanah seperti ini akan mendapat penyakit bubul, sebagaimana dinyatakan
Tanah lekuk-berlekuk
Tanah bernama tahi burung
Dibuat ladang padinya kerit
Dibuat kebun batang meranggas
Dibuat rumah sakit bubul
Dibuat gelanggang mematahkan
Dibuat tepian tak berair

enam, tanah berbusut dan beranai-anai. Orang Melayu percaya bahwa penghuni rumah di atas tanah ini akan melarat, seperti diungkapkan dalam pantun,
Tanah berbusut beranai-anai
Busutnya penyemput bala
Anai-anai penyemput hutang
Tak kering kain di pinggang
Tak bersiang tak bermalam

tujuh, tanah wakaf. Penghuni rumah di atas tanah ini dipercayai akan ditimpa kutukan, sebagaimana diungkapkan,
Membuat rumah di tanah wakaf
Kepala menjunjung bala
Bahu memikul siksa

lapan, “lidah tanah”, yaitu tanah yang berbusut panjang. Penghuni bangunan di atas tanah ini diyakini tak akan tetap mendiami rumahnya, sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan,
Busut panjang lidah tanah
Tak menahan gelegar rumah
Tak memapan lantai tengah
Kekalnya sehari dua
Ketiga mati ditimpa alang
Keempat terbuang ke laut luas

Upacara Mendirikan Rumah Melayu



Mendirikan bangunan secara tradisional memerlukan bermacam-macam upacara agar harapan pemilik dan semua orang yang terlibat dalam pengerjaannya terpenuhi. Selain itu, upacara juga ditujukan supaya mereka semua terhindar dari malapetaka. Upacara yang umum dilakukan dalam pekerjaan ini adalah Beramu, Mematikan Tanah, dan Menaiki Rumah.

a. Upacara Beramu
Upacara Beramu disebut juga Mendarahi kayu, Meramu, atau Membahan. Tujuannya agar orang-orang yang terlibat dalam pembuatan bangunan tidak mendapat gangguan dari “penunggu hutan”, sebagaimana yang tergambar dalam mantra yang dibacakan oleh Pawang, Dukun, atau Kemantan yang melakukan upacara:
Assalamualaikum ibu ke bumi
Assalamualaikum bapa ke langit
Si Dogum namanya bumi
Si Coca namanya kayu
Induk Alim namanya tanaman
Menentukan salah dengan silih
Jangan diberi rusak
Jangan diberi binasa
Pada anak sidang manusia
Berkat aku mengambil kayu Tiang Tua
Berkat Lailahaillallah
Upacara ini disebut Mendarahi Kayu, karena Pawang yang memimpin upacara ini lebih dulu menyiram kayu yang akan ditebang dengan darah ayam sebelum ditepungtawari. Darah ayam yang disiram ke pangkal pohon itu melambangkan bersebatinya darah manusia dengan darah semua makhluk dalam hutan, sehingga mereka tidak akan mengganggu orang-orang tersebut. Lambang-lambang yang terdapat dalam upacara ini mencerminkan sikap hidup orang Melayu yang senantiasa menghormati orang lain serta selalu ingin menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan siapa saja di bumi ini.
b. Upacara Mematikan Tanah
Upacara Mematikan Tanah bertujuan untuk membersihkan tanah tempat bangunan akan didirikan dari segala makhluk halus yang mendiaminya. Upacara yang dilakukan secara besar-besaran ini disertai dengan penyembelihan seekor kerbau. Jika diadakan secara sederhana, upacara itu disertai dengan penyembelihan seekor kambing atau seekor ayam. 
Peralatan yang dipakai dalam upacara ini mengandung lambang dengan arti yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya Melayu, yaitu: (1) Kain Campo Tengkuluk Godang, yakni sejenis selendang yang terdiri dari 3, 5, atau 7 warna untuk diselimutkan pada Tiang Tua. Kain melambangkan ibu rumah tangga yang akan mendiami rumah itu, sedangkan penyelimutan pada tiang menggambarkan kasih sayangnya kepada suami, anak-anak, dan keluarganya. Warna-warna kain pun mempunyai arti, yaitu merah sebagai lambang persaudaraan, hitam untuk keberanian atau kedubalangan, hijau untuk kesuburan atau bertunas, biru untuk kebahagiaan atau cayo langit, putih untuk kesucian atau putih hati seperti kapas, dan kuning untuk kekuasaan atau ono ajo; (2) Sirih setangkai yang melambangkan penghormatan kepada masyarakat yang ikut membantu mendirikan bangunan tersebut; (3) Bibit kelapa dua jurai yang melambangkan hubungan berkeluarga dan berketurunan; (4) Mayang pinang satu jurai yang melambangkan kecantikan dan keselarasan hidup dalam rumah tangga; (5) Payung, melambangkan tempat berlindung bagi siapa saja yang memerlukannya; (6) Kain panji dan umbul-umbul sebagai lambang keragaman suku yang ada dalam masyarakat yang telah turut membantu mendirikan bangunan tersebut; (7) Alat musik celempong, tetawak, dan gendang yang melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan; (8) Seperangkat peralatan tepung tawar yang terdiri dari daun Setawar yang berarti obat segala bisa, daun Sedingin untuk mendinginkan kepala yang panas, menyejukkan hati, dan berlapang dada, daun Ati-ati yang berarti bijak berkata-kata dan baik tingkah-laku, daun Gandarusa untuk penangkal malapetaka dari luar, bedak Limau untuk membersihkan jasmani dan rohani, air Percung yang mengandung arti “memberi tidak diminta, melepas tidak disentak” atau ikhlas dan rela berkorban, dan beras kunyit, beras basuh, dan bertih yang mengandung arti keselamatan, kemakmuran, dan kesucian hati; (9) Bebara dan kemenyan sebagai tanda persahabatan dengan segala makhluk serta ajakan dan pernyataan bahwa di tempat itu diadakan upacara; (10) Limau Purut, penyembuh segala penyakit, tangkal penolak bala; (11) Hewan sembelihan untuk semah atau sedekah kepada makhluk di sekitar tempat itu; (12) Tahi besi dan besi berani sebagai lambang kekuatan, kebulatan hati, dan daya pikat dalam pergaulan; (13) Lumpur laut atau lumpur tanah bekas perumahan keluarga tertua yang melambangkan kelemah-lembutan, tidak kaku, dan kekal abadi; (14) Inggu untuk menolak makhluk halus yang jahat; (15) Daun Juang-juang, lambang hidup dan mati, serta sebagai penangkal sihir; (16) Tunam, yaitu semacam obor dari kulit kayu dan damar yang melambangkan cahaya, seri atau rumah tangga yang terang benderang.
c. Upacara Menaiki Rumah
Upacara Menaiki Rumah ditujukan sebagai ucapan terima kasih dari pemilik rumah atau bangunan itu kepada orang-orang yang telah ikut membantu. Kadang-kadang upacara ini diikuti kenduri atau makan bersama yang didahului doa selamat.

 
My Blog : Boedak Begajol | Budaya Bangsa | Hacker Pakning
Copyright © 2011. Melayu Tolen - All Rights Reserved